produksi benih

23 03 2010

PENDAHULUAN

Kata “ Tomat ” merupakan kata serapan bahasa indonesia yang berasal dari bahasa suku Astek (Salah satu suku di indian). “ Tomat “ berasal dari kata “ xitomate “ atau “ xitotomate “. Tomat merupakan satu dari sayuran yang paling banyak dibudidayakan di dunia. Sebagai sayuran buah, tomat merupakan sumber vitamin A dan C. Tomat tumbuh baik pada temperatur 20 – 27°C, pembentukan buah terhambat pada temperatur >30°C atau < 10°C. Tomat baik ditanam pada tanah yang berdrainase baik, dengan pH optimum 6.0 -7.0. Tomat dapat ditanam sebagai rotasi pada lahan sawah. Hindari menanam tomat pada lahan yang sebelumnya ditanami tanaman dari keluarga Solanaceae, seperti: terung, cabai, tomat dan yang lainnya untuk menghindarkan hama dan penyakit. Beberapa tipe tomat yang dibudidayakan antara lain: buah segar (biasanya berwarna merah dengan variasi dalam bentuk, ukuran dan warna); chery-buah kecil; dan prosesing buah dengan warna merah yang kuat dan tinggi dalam kandungan bahan padat, sesuai untuk dibuat pasta, sup atau saos.

Produksi benih merupakan salah satu cara untuk mempertahankan atau mewariskan kekuatan (viabilitas, vigor suatu benih) yang dimiliki tetua kepada anaknya. atau menciptakan suatu kekuatan baru yang lebih baik dari yang sudah ada baik dari segi kwalitas maupun harga. benih suatu tanaman atau varietas tanaman tersebut.

Produksi benih ini dimaksudkan untuk memperbanyak atau menciptakan suatu benih yang di kemudian hari benih tersebut akan digunkan oleh masyarakat. Sehingga stiap benih harus memiliki kwalitas yang baik.
PEMBAHASAN

PRODUKSI BENIH

Benih merupakan bahan dasar tanaman yang berasal dari biji. Biji dikatakan benih apabila telah masak fisiologis. Baiknya setiap benih yang akan  kita produksi adalah benih yang telah memiliki sertifikat dan lulus uji mutu. Hal ini dikarenakan agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan apabila di kemudian hari benih yang kita produksi merugikan. Misalnya benih tersebut tidak tumbuh, karena benih tersebut telah mengalami deteriorasi karena penyimpanan yang kurang baik, dan lain sebagainya.

Berikut adalah gambaran secara sistematis dari mulai pemulia tanaman sampai ke produksi benih.

Misalnya :                    Varietas A                   Varietas B

P :          hhkk              x            HHKK

AB

F1 :                          HhKk

Katakan saja tetua A (varietas A) tahan terhadap penyakit Hawar Daun Tomat tetapi tandan bunganya sedikit dan tetua B (Varietas B) rentan terhadap penyakit Hawar Daun Tomat tetapi tandan bunganya banyak, kemudian disilangkan dan dihasilkanlah varietas AB yakni tahan terhadap penyakit Hawar Daun Tomat dan buahnya besar

Setelah kita mendapatkan hasil varietas yang bagus, maka varietas ini kita uji sertifikasi, dan diuji mutunya juga. Apabila telah lulus uji maka kita baru dapat memperbanyak atau memproduksi baik sendiri maupun bekerja sama dengan pihak atau lemabaga lain dalam hal memperbanyak atau memproduksi benih tersebut.

Produksi benih pun berbeda – beda tergantung pada tomat yang diusahakan. Masing – masing varietas memiliki ciri tersendiri dilihat dari tipe pertumbuhan tanaman, jumlah tandan buah pertanaman, jumlah buah per tandan, dan populasi tanaman per hektar lahan. Ukuran buah dilaporkan tidak berpengaruh terhadap jumlah benih yang di kandungnya. Wahju Qomara Mugnisjah, 1991).

Biasanya 20 – 50 % dari bakal buah tomat akan menjadi biji, tergantung dari varietas, teknik budidaya, dan lingkungan tumbuhnya. Umumnya 1 kg buah tomat = 4 gr benih. Biji kering yg disimpan dengan baik dapat bertahan 3-4 tahun

Hal – hal yang harus di perhatikan dalam Produksi Benih :

A. Persyaratan   Tanah

pH tanah harus dipertahankan pada 6,5, kalau perlu dengan pengapuran. Persiapan tanah dan pemupukan hampir sama dengan untuk produksi buah, atau lebih tinggi terutama kandungan phosfor. Pemberian N biasanya setengah dari pemberian kalium untuk memelihara keseimbangan antara pembungaan dan pertumbuhan vegetatif.

B. Isolasi

Tomat merupakan tanaman menyerbuk sendiri, akan tetapi penyerbukan silang dapat terjadi karena selalu ada kemungkinan serangga membawa tepung sari dari luar, atau adanya serangga yang mampu menyerbukkan silang, atau bunga dengan putik yang panjang hingga memungkinkan terjadinya serbuk silang. Jarak isolasi minimum antara varietas yang berbeda antara 30 – 200 m, untuk menghindarkan pencampuran sewaktu panen. Untuk varietas hibrida, jarak yang diperlukan tidak lebih dari 2 m. Bisa juga menggunakan pagar dari plastik, menutupi bunga tomat dengan menggunakan plastik, kertas atau apapun yang dapat menutupi kepala putik.

C. Roguing

Tanaman yang menyimpang secara morfologis harus dicabut dan dibuang. Roguing dilakukan sebelum pembungaan, pada masa pembungaan awal, dan pada saat buah pertama matang.

D. Panen dan Prosesing Benih

Buah matang dipanen, terutama buah hasil persilangan dipanen dari galur betina yang biasanya terdapat label pada kalik. Buah matang dipotong melintang, kemudian dikeluarkan biji dengan lapisan beningnya ke dalam wadah yang disediakan. Pisahkan kulit dan bagian buah yang terbawa. Biji kemudian difermentasi sampai 3-5 hari pada 20-25°C. Bila lapisan bening sudah pecah, biji dikocok beberapa kali untuk proses fermentasi yang seragam dan mencegah perubahan warna biji. Proses fermentasi jangan sampai melampaui masa pecahnya lapisan bening biji, karena dapat menyebabkan perkecambahan dini. Biji kemudian dicuci dengan air kemudian saring, dan hal ini dilakukan beberapa kali sampai biji bersih. Pengeringan dapat dilakukan setelah air ditiriskan melalui kain, kemudian biji dihamparkan pada alas yang sesuai dan dikeringkan di bawah sinar matahari, sesekali dibalikkan. Benih yang kering kemudian disimpan di tempat kering dan kedap udara, seperti halnya menyimpan benih sayuran lainnya.

Kesimpulan

Produksi benih dimaksudkan untuk memperbanyak suatu benih yang di kemudian hari benih tersebut akan digunkan oleh masyarakat. Baiknya setiap benih yang akan  kita produksi adalah benih yang telah memiliki sertifikat dan lulus uji mutu. Hal ini dikarenakan agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan apabila di kemudian hari benih yang kita produksi merugikan. Misalnya benih tersebut tidak tumbuh, karena benih tersebut telah mengalami deteriorasi karena penyimpanan yang kurang baik, dan lain sebagainya

Akan tetapi pada kenyataannya, masih ada saja benih yang diproduksi tanpa melihat sertifikasi dan uji mutu benih. Ini merupakan tugas bagi kita semua dalam melakukan pengawasan dan pencegahan agar hal tersebut tidak dapat terjadi lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Hanson P, J.T. Chen, C.G. Kuo, R. Morris dan R.T. Opena, 2000. Suggested Cultural practices for tomato. International Cooperator’s guide. AVRDC: 8 pp

Pitojo Setijo. 2005. Benih Tomat. Kanisius : Yogyakarta

Raymond AT. George.1999. Vegetable Seed Production. CABI Publishing: 214-230.

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: