HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO (PBK)

3 03 2010

HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO (PBK)

Famili Gracillariidae, Ordo Lepidoptera

Penggerek buah kakao atau yang nama latinnya Conopomorpha cramerella Snellen ini sangat merugikan. Serangannya dapat merusak hampir semua hasil. Penggerek Buah Kakao dapat menyerang buah sebesar 3 cm, tetapi umumnya lebih menyukai yang berukuran sekitar 8 cm. Ulatnya merusak dengan cara menggerek buah, memakan kulit buah, daging buah dan saluran ke biji.

ini tergolong serangga hama yang sulit dikendalikan. Mengapa ? Karena dia memiliki siklus hidup yang unik.

I. Gejala Serangan

Buah kakao yang diserang berukuran panjang 8 cm, dengan gejala masak awal, yaitu belang kuning hijau atau kuning jingga dan terdapat lubang gerekan bekas keluar larva.

Pada saat buah dibelah biji-biji saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang dan ukurannya menjadi lebih kecil. Selain itu buah jika digoyang tidak berbunyi

.

II. Daur Hidup

Sekurangnya dibutuhkan waktu 35 – 45 hari oleh hama PBK untuk berkembang dari telur menjadi imago (serangga dewasa), sehingga wajar dalam waktu yang cukup singkat perkembangan hama PBK ini sangat cepat. Siklus hidup serangga PBK ini sama seperti umumnya serangga lain yaitu : telur, larva, pupa dan imago.

  1. a. Telur

Pada fase telur, PBK akan bertelur dengan warna merah jingga. Telur-telur tersebut akan diletakkan induk betinanya pada kulit buah. Bentuk telur itu sendiri sulit diidentifikasi saking kecilnya dan sukar dilihat dengan mata telanjang. Telurnya berukuran panjang 0.8 mm dan lebar 0.5 mm. Serangga dewasa dapat bertelur antara 50 – 100 butir pada setiap buah kakao. Telur-telur tersebut akan menetas antara 3 – 7 hari setelah diletakkan. Biasanya telur diletakkan setelah matahari terbenam.

  1. b. Larva

Setelah telur menetas, akan keluar larva. Larva tersebut akan bergerak dan mulai membuat lubang ke dalam kulit selanjutnya masuk ke dalam buah kakao ( Perilaku ini dimaksudkan agar terhindar dari predator ). Lubang gerekan berada tepat di bawah tempat meletakkan telur. Selanjutnya akan menggerek daging buah, diantara biji dan plasenta. Panjang larva sekitar 1,2 cm dan berwarna ungu muda hingga putih, lama hidup dalam buah kakao antara 14 – 18 hari, kemudian telur berubah menjadi kepompong. Biasanya larva berkepompong pada daun atau alur buah, pada fase ini larva membuat lubang keluar dengan benang-benang sutra yang keluar dari mulutnya. Melalui benang itulah, ia turun ke tanah dan menggulung menjadi kepompong. Oleh sebab itu kepompong seringkali di temukan pada seresah daun atau kantong plastik yang ada di sekitar pohon.

  1. c. Pupa

Setelah enam hari menjadi kepompong, akan keluar pupa berwarna abu-abu gelap dengan panjang 8 mm. Ketika setengah badan pupa keluar dari kepompong, ia melepaskan kulitnya lalu muncul sebagai imago.

  1. d. Imago

Imago (serangga dewasa) dari hama PBK ini panjangnya 7 mm dan lebar 2 mm, memiliki sayap depan berwarna hitam bergaris putih, pada setiap ujungnya terdapat bintik kuning dan sayap belakang berwarna hitam, memiliki antena yang panjang serta runcing. Serangga ini aktif pada malam hari pukul 18 : 00 – 20 : 30. Pada siang hari biasanya berlindung di tempat lembab dan tidak terkena sinar matahari. Daya terbangnya pun tidak terlalu tinggi namun mudah terbawa oleh angin. Serangga dewasa ini sendiri hanya berumur 5 – 7 hari, jadi setelah bertelur dia akan mati.

III. Teknik Pengendalian

Ada beberapa cara pengendalian yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebaran dan serangan hama tersebut yaitu :

  1. Cara kimiawi :

Dengan Deltametrin (Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), Buldok 25 EC dengan volume semprot 250 l/ha dan frekuensi 10 hari sekali.

  1. Cara mekanis :
  • Karantina

Metode karantina dilakukan dengan mencegah masuknya hama dari negara lain seperti Philipina dan Malaysia atau dari satu daerah ke daerah lain dengan cara menghindari masuknya buah yang terjangkit serta bahan maupun alat yang mengandung hama PBK.

  • Frekuensi Panen

Kakao yang panennya terlalu sering sangat beresiko terserang hama PBK . Kulit buah yang telah dipanen di kumpulkan dan dibenamkan ke dalam tanah sehingga mampu menekan populasi serta perkembangbiakan PBK karena banyak larva yang juga ikut terbenam bersama kulit buah.

  • Pemangkasan

Pemangkasan kakao dapat dilakukan sebagai salah satu pengendalian hama. Mengapa? Karena, selain untuk mengatur tajuk tanaman dan meningkatkan produksi, dengan memangkas tajuk tanaman, otomatis kanopi nya tidak terlalu rindang. Kondisi kanopi yang rindang sangat kondusif bagi pertumbuhan hama PBK. Salah satu kelemahan hama PBK adalah tidak menyukai sinar matahari langsung, sehingga bila dilakukan pemangkasan yang sering dan teratur akan dapat menekan populasi karena pendistribusian sinar matahari pada bagian tanaman maupun areal kebun menjadi merata.

  • Pemupukan

Bertolak dari pemikiran bahwa ketersediaan unsur hara berkaitan erat dengan pertumbuhan dan produktivitas yang optimal, maka pengendalian hama bisa dilakukan dengan cara memberikan pupuk yang cukup. Maksudnya adalah bahwa terpenuhi unsur hara yang dibutuhkan tanaman akan memperlancar proses metabolisme tanaman. Lancarnya poses tersebut akan mempercepat masaknya buah, sehingga akan mengurangi tingkat kerusakan buah dan memungkinkan frekuensi panen lebih sering. Disamping itu pertumbuhan tanaman yang optimal akan mempengaruhi daya tahan tanaman terhadap serangan hama PBK meskipun pengaruhnya tidak begitu besar.

  • Sanitasi

Sanitasi berarti member-sihkan areal kebun dari daun-daun kering, tanamn tidak sehat, ranting kering, kulit buah maupun gulma yang berada di sekitar tanaman. Keadaan ini akan menciptakan suatu kondisi yang tidak sesuai dengan lingkungan untuk perkembangbiakan hama PBK

  • Sistem rampasan

Sistem rampasan berarti buah yang menggantung di pohon semua dirampas. Setiap tahun sekali dapat dilakukan rampasan terhadap semua buah. Dengan cara demikian, PBK itu hanya terbang di sekitar tanaman tanpa bisa menemukan tempat untuk meletakkan telur. Akhirnya PBK itu akan mati tanpa bisa meninggalkan keturunan. Adapun saat yang tepat untuk melakukan perampasan adalah setelah panen raya.

  • Kondomisasi

Kondomisasi berarti memberikan selubung perlindungan terhadap buah kakao. Selubungnya dapat menggunakan kantong plastik yang ujung bagian atasnya diikatkan pada tangkai buah, sedangkan ujung buah tetap terbuka. Dengan penyelubungan buah tersebut, hama tidak bisa meletakkan telurnya pada kulit buah sehingga buah akan terhindar dari geretan larva.

  1. 3. Cara hayati
  • Pemanfaatan agen hayati

Pemanfaatan agen hayati seperti Beauvaria bassiana , dan musuh alaminya seperti cecopet, kepik leher, semut hitam, dll.

http://www.tanindo.com/abdi12/hal0801.htm

http://umlnegara.blogspot.com/2009/02/hama-penyakit-tumbuhan.html

Departemen pertanian, Jakarta. 2002. Musuh Alami, Hama dan Penyakit Tanaman Kakao edisi kedua

HAMA HELOPELTIS,sp

Famili Miridae, Ordo Hemiptera

  1. I. Gejala Serangan :

Buah muda yang terserang mongering lalu rontok, tetapi jika tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Serangan pada buah tua, tampak penuh bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman, kulitnya mengeras dan retak. Serangan pada pucuk layu dan mati, ranting mongering dan merangas

Kepik Helopeltis sp, termasuk hama penting yang menyerang buah kakao dan pucuk/ranting muda. Serangan pada buah tua tidak terlalu merugikan, tetapi sebaliknya pada buah muda. Selain kakao, hama ini juga memakan banyak tananaman lain, diantaranya: teh, jambu biji, jambu mente, lamtoro, apokat, mangga, dadap, ubi jalar, dll.

  1. II. Daur hidup

( metamorfosisnya tidak sempurna telur, nimfa, imago)

Telur berwarna putih berbentuk lonjong. Diletakkan pada tangkai buah, jaringan kulit buah, tangkai daun muda, atau ranting.

Nimfa mempunyai 5 instar.

Dewasa mampu bertelur hingga 200 butir. Waktu makannya pagi dan sore. Kehidupannya juga terpengaruh cahaya, sehingga bila terlalu panas, nimfa muda akan pergi ke pupus dan dewasanya ke sela-sela daun yang berada di sebelah dalam.

  1. III. Teknik Pengendalian
  • Secara hayati

Menggunakan musuh alami semut hitam (Dolichoderus thoracicus), dengan diolesi gula pada daun kakao yang kering

spraying dengan cendawan spicaria, cecopet, laba-laba, cecak, belalang sembah, tawon bracon, dll.

  • Secara kimiawi

Menggunakan Bioinsektisida NirAma, yang berbahan aktif Paecilomyces fumosoroseus, atau insektisida Wilbo 200 EC dengan bahan aktif klorfirifos 200 g/l. Dengan  dosis / konsentrasi formulasi 1.0 – 1.5 ml/l dan volume semprot 300 – 500.

  • Secara mekanis

Hama ini dapat dikendalikan dengan pemangkasan

Penyakit Busuk buah

Phytophthora palmivora, Famili Pythiaceae, Ordo Pythiales

Nama patogen : Phytophthora palmivora

Jamur P. palmivora ini dapat menyerang buah muda sampai masak.

Patogen ini bersifat Saprofit fakultatif

Buah kakao yang terserang berbercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari ujung, tengah atau pangkal buah. Lama – kelamaan bercak meluas ke seluruh badan buah

Penyakit ini disebarkan melalui sporangium yang terbawa atau terpercik air hujan. Pembentukkan spora Phytophthora palmivora ini dapat dilihat dari adanya kumpulan warna putih di atas bercak-bercak hitam yang telah melebar ke semua arah. Suhu yang berkisar 27 – 30°C dan ditunjang oleh tingkat kelembaban 70 – 85 % sangat mendukung ( kondusif ) dalam perkembangan maupun pertumbuhan spora yang begitu cepat.

Buah kakao yang terserang dan busuk akan menularkan penyakitnya pada buah lain yang letaknya berdekatan. Selain menyerang buahnya, jamur tersebut juga dapat menyerang bagian tanaman lain seperti tangkai buah, batang, maupun tunas muda.

Pada bagian batang, gejala yang terlihat berupa bercak bulat berwarna coklat di dekat permukaan tanah. Bila kulit kayunya kita kupas maka akan terlihat warna coklat serta bagian dalam yang sudah membusuk. Biasanya penyakit ini menyerang tanaman kakao pada stadium pembungaan sampai pembentukkan buah. Pada saat tidak ada buah, jamur dapat bertahan di dalam tanah.

Teknik Pengendalian :

  • Secara mekanis :
  1. sanitasi kebun,
  2. mekanis (mengumpulkan dan membakar buah yang terserang) dan kultur teknis.
  3. Pengaturan pohon pelindung dan pemangkasan tanaman kakao merupakan hal yang penting dilakukan terutama pada musim hujan.
  4. Penanaman klon resisten atau toleran merupakan cara yang wajib diperhatikan.
  • Secara Kimiawi :

Penggunaan fungisida Kocide 77WP yang berbahan aktif tembaga hidroksida 77 %. Penyemprotan dilakukan dengan menggunakan dosis 2 gram/liter air yang diaplikasikan 4 minggu sekali sebelum berbunga sampai 3 hari sebelum keluarnya bunga. Cukup ampuh menurut  ( Ir. Menas Tjionger’s, MS. 2001 )

Departemen pertanian, Jakarta. 2002. Musuh Alami, Hama dan Penyakit Tanaman Kakao edisi kedua

Tjionger Menas. http://www.tanindo.com/abdi10/hal1901.htm 2001

Vascular streak dieback (VSD)

Oncobasidium theobromae, Kelas Basidiomycetes, Ordo Uredinales

Penyakit VSD disebabkan oleh O. theobromae, yang dapat menyerang di pembibitan sampai tanaman dewasa.

Gejala dan serangan

Gejala tanaman terserang, daun-daun menguning lebih awal dari waktu yang sebenarnya dengan bercak berwarna hijau, dan gugur sehingga terdapat ranting tanpa daun (ompong). Bila permukaan bekas menempelnya daun diiris tipis, akan terlihat gejala bintik 3 kecoklatan. Permukaan kulit ranting kasar dan belang, bila diiris memanjang tampak jaringan pembuluh kayu yang rusak berupa garis-garis kecil (streak) berwarna kecoklatan.

Penyebaran penyakit melalui spora yang terbawa angin dan bahan vegetatif tanaman. Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh kelembaban. Embun dan cuaca basah membantu perkecambahan spora. Pelepasan dan penyebaran spora sangat dipengaruhi oleh cahaya gelap.

Teknik Pengendalian

  • Cara mekanis
  1. Pengendalian penyakit dengan memotong ranting/cabang terserang sampai 30cm pada bagian yang masih sehat kemudian dipupuk NPK 1,5 kali dosis anjuran.
  2. Pemangkasan bentuk yang sekaligus mengurangi kelembaban dan memberikan sinar matahari yang cukup. Pemangkasan dilakukan pada saat selesai panen sebelum muncul flush
  3. Parit drainase dibuat untuk menghindari genangan air dalam kebun pada musim hujan.
  4. Untuk pencegahan, tidak menggunakan bahan tanaman kakao dari kebun yang terserang VSD, dan menanam klon kakao yang tahan atau toleran terhadap VSD seperti Sca 6 dan DRC 15.
  • Cara Kimiawi
  1. Fungisida

http://ditjenbun.deptan.go.id/perbenpro/index.php?option=com_content&view=article&id=96:ditemukan-2-klon-kakao-tahan-vsd&catid=8:inventaris-berita&Item

About these ads

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: